Senin, 28 Februari 2011

Badai Membawa Hidayah

Samsudin Taliwongso (Mualaf asal Manado)

Saya terlahir dari keluarga Kristen yang fanatik. Ayah saya seorang Pembina Gereja Advent Masehi Hari Ketujuh. Saya lahir di Desa Teling, Manado pada tanggal 11 Oktober 1927 dengan nama pemberian orang tua Samuel Taliwongso.

Saya menghabiskan masa kecil di Manado dengan mendapat pendidikan agama di Advent Zending School (Sekolah Missi Advent), sekarang setingkat SD. Setiap hari saya harus menghafal dan menyetor lima pasal / surat / Firman Tuhan yang ditugaskan oleh mendiang ayah saya.

Selepas Advent Zending School saya melanjutkan ke MULO, setingkat SMP sekarang, saat itu masa perjuangan bangsa Indonesia berusaha melepaskan diri dari jajahan Belanda. Saya pun terpanggil untuk bergabung bersama teman-teman melawan Belanda dengan gerakan bawah tanah.

Oleh pemerintah Belanda kelompok-kelompok kami seperti ini disebut sebagai “The Hodger for Soekarno” (Anjing-anjing Soekarno), dan dianggap sebagai pemberontak. Karena dikejar-kejar, saya lari ke Morotai kemudian ke Sorong tahun 1947 dan kemudian ke Hollandia (Jayapura).

Ketika menginjakkan kaki di Hollandia (Jayapura), saya bekerja pada sebuah perusahaan perminyakan milik pemerintahan Hindia Belanda (sekarang semacam Pertamina). Saya dipercaya sebagai kepala Departemen Bagian Pengapalan.

Selain aktivitas keseharian sebagai pegawai kepercayaan Belanda, aktivitas sehari-hari juga sebagai seorang pemimpin gereja. Saya setiap hari mengajarkan Injil kepada para jemaat gereja dan berusaha menggiring domba-domba yang sesat (kaum Muslim) untuk diselamatkan. Ini kewajiban yang harus saya lakukan sebagai seorang pendeta / pembaptis.

Sebelumnya, saya punya pengalaman di Manado membangun sebuah gereja dan membaptiskan beberapa orang Islam yang berasal dari Gorontalo yang akan menikah dengan pemuda-pemuda Kristen.

Awal Mendapat Hidayah

Di tahun 1962 terjadi peristiwa Dwikora / Trikora. Pemerintah Belanda menganggap orang Indonesia sebagai musuh. Mereka dirumahkan. Ada 759 orang yang terkena kebijakan itu. Saya termasuk salah satu di antaranya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya menjadi kuli bangunan. Karena situasi keamanan, saya bersama Leo Timbeleng (Alm), Herard G, Nori (Alm), W Oro (Alm), memberanikan diri menghadap Gubernur Hollandia saat itu; Gubernur Van Baal untuk memulangkan kami ke daerah asalnya.

Van Baal setuju, tapi dengan syarat harus menggunakan kapal yang berbendera Belanda. Bagi kami permintaan itu tidak mungkin.

Akhirnya dengan sebuah kapal berbendera Kebangsaan Panama milik seorang pengusaha Tianghoa asal Singapura bernama Tuan Robin Lowkami berangkat menuju Jakarta. Berdasarkan surat amanah yang ditulis SUIB (Sekretaris Urusan Irian Barat) saat itu, saya diberi kepercayaan sebagai pimpinan rombongan.

Suatu malam di tengah lautan bebas, datanglah badai yang luar biasa yang menghantam kapal. Banyak orang yang muntah-muntah dan lemas tidak berdaya. Doa dipanjatkan. Saat itulah ada seorang penumpang Muslim yang bernama Latoke asal Makassar sedang shalat.

Saya perhatikan apa yang dilakukannya. Dalam hati saya berucap: “Nih orang, orang lain mau mati kok malah nungging-nungging”. Setelah itu Latoke pun membaca buku (Al Qur’an) di tengah suasana seperti itu. Tentu saya jengkel.

Besoknya badai yang dahsyat datang lagi. Saya penasaran mencarinya kembali. Ia ternyata tertidur pulas akibat lemas dihajar ombak semalaman. Di dekatnya ada buku (Al Qur’an), dengan sampul bertulis “Terjemahan Al Qur’an Karangan Muhammad Yunus” terbitan Toko Buku Gunung Agung, Jl Kwitang Jakarta.

Saya coba membukanya. Kebetulan ada ayat yang ditandai Latoke yakni Surat Al Baqarah ayat 136. Saya baca. Saya baru tahu ternyata orang Islam itu tidak cuma percaya Muhammad saja.

Sebelumnya saya menganggap orang Islam itu tidak percaya adanya Tuhan (Allah), Nabi Isa, Nabi Daud sebagaimana nabi-nabi bagi orang non Muslim. Singkat cerita kapal tiba di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Saya jadi penasaran dengan apa yang saya baca tadi dan ingin mengetahui lebih jauh tentang Al Qur’an itu.

Saat tiba di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, saya dikawal dua orang perwira atas perintah Konsulat Indonesia di Singapura, karena dianggap orang penting oleh pemerintah Indonesia saat itu.

Jadinya saya tidak bebas. Suatu ketika saya mencoba membebaskan diri dari kawalan dengan berbagai alasan untuk mencari Al Qur’an. Dengan sembunyi-sembunyi saya mencari toko buku Gunung Agung di jalan Kwitang, untuk membeli terjemahan Al Qur’an karangan Muhammad Yunus.

Saya minta kasir untuk membungkus rapat Al Qur’an itu agar tidak sobek dan kena hujan. Padahal alasan yang sebenarnya agar tidak ketahuan orang.

Saya pun kemudian kembali ke Manado. Tak beberapa lama, saya dipanggil oleh pimpinan Angkatan Darat untuk membantu misi pendaratan di Irian Barat. Saya harus kembali ke Jakarta.

Dalam perjalanan inilah saya baru membuka buku yang pernah saya beli sebelumnya di Jakarta. Saya mulai tahu dan paham bahwa agama Kristen itu salah. Sesampainya di Irian, tak lama kemudian saya masuk Islam.

Sejak saat itu saya terus mengkaji Islam dan berdakwah mengembalikan orang-orang yang dahulu pernah saya baptis / murtadkan. Atas dukungan Dewan Masjid Indonesia, kami membentuk Kelompok Pengajian Muallaf (KPM) yang mengadakan pengajian dua minggu sekali.

Ada kisah yang sangat menarik, hampir tiap malam pada November-Desember 2008 banyak pendeta-pendeta yang datang ke rumah saya untuk mengajak saya berdiskusi / berdebat dengan maksud untuk mengembalikan saya kepada ajaran Kristen.

Alhmadulillah, saya mampu menghadapi argumen-argumen mereka. Beberapa di antara pendeta-pendeta itu ada yang mengatakan: “Kami mulai tidak yakin kalau Tuhan Yesus itu adalah Tuhan.”

Satu hal yang menjadi keprihatinan saya, umat Islam saat ini banyak yang tidak tahu tentang Islam itu sendiri, bahkan telah demikian jauh dan asing dengan Islam. Umat Islam mulai terkotak-kotak dan mencintai kelompoknya sendiri, bahkan ada yang hanya Islam KTP.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar